Tuesday, October 18, 2016

Metode Pencarian dan Pelacakan 1

  • Hal penting dalam menentukan keberhasilan sistem cerdas adalah kesuksesan dalam pencarian.
  • Pencarian =  suatu proses mencari solusi dari suatu permasalahan melalui sekumpulan kemungkinan ruang keadaan (state space).
  • Ruang keadaan = merupakan suatu ruang yang berisi semua keadaan yang mungkin.
  • Untuk mengukur performasi metode pencarian, terdapat 4 kriteria yang dapat digunakan :

           - Completeness: apakah metode tsb menjamin penemuan solusi jika solusinya memang ada?
           - Time complexity: berapa lama waktu yang diperlukan? (semakin cepat, semakin baik)
           - Space complexity: berapa banyak memori yang diperlukan?
           - Optimality: apakah metode tsb menjamin menemukan solusi yg terbaik jika ada beberapa             solusi berbeda?

A. Metode Pencarian Buta (Blind Search)

Pencarian Melebar Pertama (Breadth - First Seacrh)

  • Semua node pada level n akan dikunjungi terlebih dahulu sebelum level n+1
  • Mulai dari akar lalu ke level 1 dari kiri ke kanan
  • Kemudian ke level selanjutnya hingga solusi ditemukan

Keuntungan :

  • Tidak akan menemui jalan buntu
  • Menjamin ditemukannya solusi (jika solusinya memang ada) dan solusi yang ditemukan pasti yang paling baik
  • Jika ada satu solusi maka bread-first search akan menemukannya

Kelemahan :

  • Membuthkan memori yang cukup banyak
  • Membutuhkan waktu yang cukup lama


Pencarian Mendalam Pertama (Depth - First Search)
Proses pencarian dilakukan pada semua anaknya sebelum dilakukan pencarian ke node-node yang selevel.
Keuntungannya :

  • Memori yang relatif kecil
  • Secara kebetulan, akan menemukan solusi tanpa harus menguji lebih banyak lagi
B. Metode Pencarian Heuristik
Pencarian buta tidak selalu dapat diterapkan dengan baik
   - Waktu aksesnya cukup lama
   - Besarnya memoru yang diperlukan
Metode heuristik search diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan yang lebih besar. Metode heuristic search menggunakan suatu fungsi yang menghitung biaya perkiraan (estimasi) dari suatu simpul tertentu menuju ke simpul tujuan disebut fungsi heuristic. Aplikasi yang menggunakan fungsi heurustic : Google, Deep Blue Chess Machine. 
Contoh : puzzle

Keadaan awal

Tujuan
Keadaan awal tujuan pencarian heuristik :
   a. Operator
        - Ubin kosong geser ke kanan
        - Ubin kosong geser ke kiri
        - Ubin kosong geser ke atas
        - Ubin kosong geser ke bawah
  b. Langkah awal hanya ada 3 operator yang bisa digunakan
        - Ubin kosong digeser ke kiri, ke kanan, dan ke atas
   c. Jika menggunakan blind search, tidak perlu mengetahui operasi apa yg akan dikerjakan (sembarang)
   d. Pada pencarian heuristik perlu diberikan informasi khusus dalam domain tersebut
   e. Untuk jumlah ubin yang menempati posisi yang benar, jumlah yang lebih tinggi adalah yang lebih diharapkan
   f. Untuk jumlah ubin yang menempati posisi yang salah, jumlah yang lebih kecil adalah yang lebih diharapkan
   g. Mnegitung total gerakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan jumlah yang lebih kecil adalah yang diharapkan

Ada metode pencarian heuristik :
   - Pembangkit & Pengujian (Generate & Test)
   - Pendakian Bukit (Hill Climbing)

Pembangkt & Pengujian (Generate & Test)
Pada prinsip ini merupakan penggabungan antara depth-first search dengan pelacakan mundur (backtracking), yaitu bergerak ke belakang menuju pada suatu keadaan awal

Algoritma :
 - Bangkitkan suatu kemungkinan solusi (membangkitkan suatu titik tertentu atau lintasan tertentu dari keadaan awal)
 - Uji untuk melihat apakah node tsb benar-benar merupakan solusinya dengan cara membandingkan node tsb atau node akhir dari lintasan yang dipilih dengan kumpulan tujuan yang diharapkan
 - Jika solusi ditemukan, keluar. Jika tidak, ulangi lagi langkah pertama

Contoh. Travelling Salesman Problem (TSP)
Seorang salesman ingin mengunjungi n kota. Jarak antar tiap kota sudah diketahui. Ingin diketahui rute terpendek dimana setiap kota hanya noleh dikunjungi 1 kali.
Generate & Test akan membangkitkan semua solusi yang mungkin :
   - A - B - C - D
   - A - B - D - C
   - A - C - B - D
   - A - C - D - B, dll
Kelemahan dari Generate & Test, yaitu :
   - Perlu membangkitkan semua kemungkina sebelum dilakukan pengujian
   - Membutuhkan wajtu yang cukup lama dalam pencariannya

Pemdakian Bukit Hill (Hill Climbing)
Metode ini hampir sama dengan Generate & Testm hanya saja proses pengujian dilakukan dengan menggunakan fungsi heurisitk. Pembangkitan keadaan berikutnya sangat tergantung pada feedback dari prosedur pengertasam. Tes yang berupa fungsi heuristik akan menunjukkan seberapa baiknya nilai terkaan yang diambil terhadap kadaan lainnya yang mungkin

Simple Hill Climbing
Algoritma :
  - Mulai dari keaadaan awal, lakukan pengujian. Jika merupakan tujuan, maka berhenti, jika tidak maka lanjutkan dengan keadaan sekarang sebagai keadaan awal
  - Kerjakan langkat berikut sampai solusinya ditemuka, atau sampai tidak ada operator baru yang akan diaplikasikan pada keadaan sekarang
  - Cari operator yang belum pernah digunakan, gunakan operator ini untuk mendapatkan keadaan baru.
  - Evaluasi keadaan baru merupakan tujuan, keluar
  - Jika keadaan baru merupakan tujuan, keluar
  - Jika bukan tujuan, namun nilainya lebih baik daripada keadaan sekarang, maka jadikan keadaan baru tersebut menjadi keadaan sekarang
  - Jika keadaan baru tidak lebih baik daripada keadaan sekarang, maka lanjutkan iterasi

Contoh. TSP
  a. Operator : tukar kota ke-i dengan kota ke-j (Tk i,j)
  b. Untuk 4 kota :
        - Tk 1,2 : tukar kota ke-1 dengan kota ke-2
        - Tk 1,3 : tukar kota ke-1 dengan kota ke-3
        - Tk 1,4 : tukar kota ke-1 dengan kota ke-4
        - Tk 2,3 : tukar kota ke-2 dengan kota ke-3
        - Tk 2,3 : tukar kota ke-2 dengan kota ke-4
        - Tk 3,4 : tukar kota ke-3 dengan kota ke-4
     Untuk n kota, akan ada operator sebanyak n


Thursday, October 13, 2016

Pengenalan Logical Agents

Pentingnya Pengetahuan

  • Problem Solving Agent : Memilih solusi di antara kemungkinan yang ada. Apa yang ia “ketahui” tentang dunia tidak berkembang ! problem solution (initial state, successor function, goal test)
  • Knowledge-based Agent : Lebih “pintar”. Ia “mengetahui” hal-hal tentang dunia dan dapat melakukan reasoning (berpikir, bernalar) mengenai : Hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya (imperfect/partial information), dan Tindakan yang paling baik untuk diambil
Knowledge-based Agent
Knowledge Base: apa yang “diketahui” oleh si agent. Pendekatan deklaratif membangun agent: “beritahu” informasi yang relevan, simpan dalam KB => (TELL). Agen dapat ditanya (atau bertanya diri sendiri) apa yang sebaiknya dilakukan berdasarkan KB => (ASK). Sebuah knowledge-based agent harus bisa :
   - Merepresentasikan world, state, action, dst.
   - Menerima informasi baru (dan meng-update representasinya)
   - Menyimpulkan pengetahuan lain yang tidak eksplisit (hidden property)
   - Menyimpulkan action apa yang perlu diambil

Knowledge Base :
   - Himpunan representasi fakta yang diketahui tentang lingkungannya
   - Tiap fakta disebut sentence.
   - Dinyatakan dalam bahasa formal ! bisa diolah
   - TELL: menambahkan sentence baru ke KB.

Inference Engine :
   - Menentukan fakta baru yang dapat diturunkan dari pengetahuan yang sudah ada dalam KB.
   - Menjawab pertanyaan (ASK) berdasarkan KB yang sudah.

Representasi
Agent dapat dipandang dari knowledge level: informasi apa yang diketahuinya? Mis: sebuah robot “mengetahui” bahwa gedung B ada di antara gedung A dan gedung C. Agent dapat dipandang dari implementation level : Bagaimana representasi informasi yang diketahuinya?
   - Logical sentence: di_antara(gdB,gdA,gdC)
   - Natural language: “Gedung B ada di antara gedung A dan gedung C”
   - Tabel posisi koordinat gedung-gedung
   - Gambar diagram peta Fasilkom (bitmap? vector?)
Pilihan representasi berpengaruh thd. apa yang bisa dilakukan oleh inference engine.

Pendekatan Deklaratif vs Pendekatan Prosedural
Programmer memberitahu (TELL) agent informasi tentang environment. Kalau informasi kurang, agent bisa melengkapinya sendiri. Bandingkan dengan pendekatan prosedural: Programmer secara eksplisit memrogram agent untuk bertindak. Kalau program tidak benar ... ? (error?) Ini adalah masalah knowledge representation: Bagaimana representasi yang tepat?
   - Expressive: bisa menyatakan fakta tentang environment
   - Tractable: bisa diolah/diproses inference engine (dg. cepat?)

Wumpus World


- Performance measure: emas +1000, mati -1000, gerak -1, panah -10
- Environment: Matriks 4x4 kamar. Initial state [1,1]. Ada gold, wumpus dan pit yang lokasinya dipilih secara acak.
- Percept
     * Breeze: kamar di samping lubang jebakan ada hembusan angin
     * Glitter: kamar di mana ada emas ada kilauan/sinar
     * Smell: kamar di samping Wumpus berbau busuk
- Action: maju, belok kiri 90
, kanan 90
, tembak panah (hanya 1!), ambil benda

Sifat Wumpus World :
   - (Fully) observable? Tidak, hanya bisa persepsi lokal
   - Deterministic? Ya, hasil tindakan jelas & pasti
   - Episodic? Tidak, tergantung action sequence
   - Static? Ya, gold, wumpus, pit tidak bergerak
   - Discrete? Ya
   - Single agent? Tidak

Menjelajahi Wumpus World


Logic in General
Knowledge representation language (KRL): bahasa yang digunakan untuk menyatakan fakta tentang
“dunia”.
Syntax: aturan yang mendefinisikan sentence yang sah dalam bahasa.
Semantics: aturan yang mendefinisikan “arti” sebuah sentence, mis: kebenaran sentence di dalam dunia

Contoh KRL bahasa aritmatika :
Syntax:
   x + 2 > y adalah kalimat sah.
   x2 + y bukan kalimat sah.

Semantics: x + 2 > y benar jika bilangan x + 2 tidak lebih kecil dari bilangan y:
   x + 2 > y benar dalam “dunia” di mana x = 7, y = 1
   x + 2 > y salah dalam “dunia” di mana x = 0, y = 6

Contoh KRL bahasa Indonesia :
Syntax:
   “Jakarta adalah ibukota Indonesia” adalah kalimat sah.
   “Ibu Indonesia kota Jakarta adalah” bukan kalimat sah.

Semantics: “X adalah ibukota Y” benar jika X adalah pusat pemerintahan negara Y.
   “Jakarta adalah ibukota Indonesia” benar dalam “dunia” kita sekarang.
   “Jakarta adalah ibukota Indonesia” salah dalam “dunia” th. 1948 (Yogya? Bukittinggi?).

Logic sebagai KRL
Logics: bahasa formal untuk merepresentasikan fakta sedemikian shg. kesimpulan (fakta baru, jawaban) dapat ditarik. Ada banyak metode inference yang diketahui. Kita bisa membangun agent Wumpus World dengan logika: memanfaatkan perkembangan logika oleh ahli matematika, filsafat selama ratusan tahun!

Entailment
Entailment berarti sesuatu fakta bisa disimpulkan dari (kumpulan) fakta lain.
KB |= : KB entails sentence jhj true dalam semua “dunia” di mana KB true.
Contoh:
   - KB mengandung sentence “Anto ganteng” dan “Ani cantik”.
   - KB |= 1: “Anto ganteng dan Ani cantik”
   - KB 2 2: “Anto pintar”
   - x + y = 4 |= 4 = x + y

Inference/Reasoning

  • Inference, atau reasoning: pembentukan fakta (sentence) baru yang meng-entail fakta-fakta lama.
  • Reasoning bukan dilakukan pada fakta di dunia (semantics), melainkan representasi fakta dalam KRL si agent (syntax).
  • Otak manusia melakukan proses reasoning dalam suatu bentuk syntax!

Pengenalan Intelligent Agent

Agent dan Lingkungannya
Agent adalah segala sesuatu yang dapat melihat/mengartikan/mengetahui lingkungannya melalui alat sensor dan bertindak melalui alat aktuator. Manusia sebagai agent : mata, telinga, dan organ lainnya sebagai sensors; tangan, kaki, mulut dan bagian tubuh lainnya sebagai actuators. Robot sebagai agent : kamera dan pejejak inframerah sebagai sensors; berbagai motor penggerak sebagai actuators. Software sebagai agent : tekanan pada keyboard, isi file dan paket-paket pada jaringan sebagai masukan sensors; tampilan pada layar, penulisan file dan pengiriman paket jaringan sebagai keluaran actuators. Fungsi agent(f) adalah pemetaan dari urutan persepsi menjadi tindakan.

Konsep Rasionalitas
Rational agent adalah agent yang melakukan sesuatu yang benar. Setiap kolom pada tabel (Vacuum-cleaner world) diselesaikan/dikerjakan dengan benar.

Rasional tergantung pada 4 hal :
  • Kemampuan yang terukur
  • Pengetahuan lingkungan sebelumnya/terdahulu
  • Tindakan
  • Urutan persepsi

DEF : untuk setiap urutan persepsi yang mungkin, rational agent harus memilih tindakan yang diharapkan dapat memaksimalkan kemampuan dengan memberikan bukti yang dihasilkan dari urutan persepsi dan pengetahuan yang dimiliki oleh agent.

Agent dapat bertindak sesuai dengan yang diharapkan untuk memodifikasi persepsi akan datang dengan mendapatkan informasi yang berguna (pengumpulan informasi dan eksplorasi). Agent dikatakan autonomous, jika perilakunya ditentukan oleh pengalamannya sendiri (dengan kemampuan untuk belajar dan beradaptasi)

Task Environtment (PEAS)
To design a rational agent we must specify its task environment. PEAS description of the environtment :
  • Performance
  • Environment
  • Actuators
  • Sensors
Contoh-contoh.
Agent : Sistem Diagnosis Medis
   - Perfomance measure: kesembuhan pasien, biaya minim, sengketa
   - Environment: pasien, pegawai rumah sakit
   - Actuators: layar monitor (pertanyaan, test, perawatan)
   - Sensors: keyboard (gejala, temuan, pertanyaan pasien)

Agent : Part-picking robot
   - Performance measure: % komponen pada tempat penampungan yang sesuai
   - Environment: Conveyor belt with parts, bins
   - Actuators: Joined arm and hand
   - Sensors: Kamera, joint angle sensors

Agent : Interactive English tutor
   - Performance measure: Maximize student's score on test
   - Environment: Set of students
   - Actuators: Screen display (exercises, suggestions, corrections)
   - Sensors: Keyboard

Tipe-Tipe Lingkungan Agents
  1. Fully vs. partially observable : Lingkungan sepenuhnya dapat diamati ketika sensor-sensor dapat mendeteksi semua aspek yang relevan dalam memilih tindakan.
  2. Deterministic vs. stochastic : Ketika tahap lingkungan berikutnya sepenuhnya ditentukan oleh tindakan yang sudah dilakukan.
  3. Episodic vs. sequential : Pengalaman agent dapat dibagi menjadi tahapan-tahapan yang kecil dimana agent akan menerima dan melakukan satu tindakan. Pilihan tindakan tergantung hanya pada episode itu sendiri.
  4. Static vs. dynamic : Jika lingkungan dapat berubah ketika agent sedang memilih tindakan, lingkungan dikatakan dynamic. Semi-dynamic, jika perfoma agent berubah ketika lingkungan tetap sama.
  5. Discrete vs. continuous : This distinction can be applied to the state of the environment, the way time is handled and to the percepts/actions of the agent.
  6. Single vs. multi-agent : Does the environment contain other agents who are also maximizing some performance measure that depends on the current agent’s actions?

Agent types
  1. Goal-based
  2. Utility-based
  3. Learning

1. Goal-based
Tujuan-tujuan tertentu dapat dicapai dengan cara-cara berbeda. Beberapa lebih baik, memiliki manfaat yang lebih tinggi. Fungsi utililas memetakan urutan kedudukan (a sequence of states) dengan
angka real.
Meningkatkan tujuan-tujuan :
   - Memilih tujuan dari tujuan-tujuan yang berbenturan
   - Memilih dengan tepat beberapa tujuan memiliki kemungkinan berhasil.


2. Utility-based
Agent membutuhkan tujuan untuk mengetahui situasi mana yang diharapkan. Akan menjadi sulit ketika urutan yang panjang dari tindakan-tindakan (actions) dibutuhkan untuk mencari tujuan. Typically investigated in search and planning research. Major difference: future is taken into account. Is more flexible since knowledge is represented explicitly and can be manipulated.


3. Learning
Semua program-program agent terdahulu mendeskripsikan metode untuk memilih tindakan-tindakan (actions).
   – Yet it does not explain the origin of these programs.
   – Learning mechanisms can be used to perform this task.
   – Teach them instead of instructing them.
   – Advantage is the robustness of the program toward initially unknown environments.


Pengenalan Intelegensi Buatan (KB)

Pengertian
Awalnya komputer difungsikan sebagai alat hitung. Seiring dengan perkembangan jaman, komputer diharapkan dapat diberdayakan untuk mengerjakan segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia. Manusia bisa pandai menyelesaikan masalah karena mempunyai pengetahuan, penalaran dan pengalaman. Agar komputer bisa bertindak seperti dan sebaik manusia, maka komputer harus diberi bekal pengetahuan dan mempunyai kemampuan menalar. AI merupakan salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan manusia. 

Kecerdasan Buatan dilihat dari berbagai sudut pandang :
  1. Sudut pandang kecerdasan : Mesin menjadi 'cerdas' (mampu berbuat apa yang dilakukan manusia)
  2. Sudut pandang penelitian : Studi bagaimana membuat agar komputer dapat melakukan sesuatu sebaik yang dilakukan manusia
  3. Sudut pandang bisnis : Kumpulan peralatan yang sangat powerfull dan metodelogis dalam menyelesaikan masalah bisnis
  4. Sudut pandang pemrograman : Studi tentang pemrograman simbolik, penyelasian masalah dan percarian
Aplikasi KB memiliki 2 bagian utama, yaitu : 
  • Basis pengetahuan (Knowlegde Base) : berisi fakta, teori, pemikiran, dan hubungan antara satu dengan lainnya
  • Motor Inferensi (Interface Engine) : kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman

Komputasi KB vs Komputasi Konvensional


Sejarah KB
Tahun 1950-an, Alan Turing mengusulkan tes melihat untuk melihat bisa/tidaknya mesin memberikan respon terhadap serangkaian pertanyaan (agar mesin dapat dikatakan cerdas). Istilah "Artificial Intellegence" dimunculkan oleh John McCarthy (MIT), tahun 1956 pada Dartmouth Conference. Dalam konferensi itu juga didefinisikan tujuan AI, yaitu mengetahui dan memodelkan proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan kelakuan manusia tersebut.

Beberapa program AI peroide 1956-1966 :

  • Logic Theorist, untuk membuktikan teorema matematik
  • Sad San (oleh Robert K.Lindsay, 1960), program yang dapat mengetahui kalimat sederhana dalam bahasa Inggris dan memberikan jawaban dari fakta yang didengar dalam sebuah percakapan.
  • ELIZA (Joseph Weizenbaum, 1967), program untuk terapi pasien dengan memberikan jawaban
Lingkup Kecerdasan Buatan
  1.  Sistem Pakar  : komputer memiliki keahlian untuk menyelesaikan masalah dengan meniru keahlian yang dimiliki oleh pakar
  2. Pengolahan Bahasa Alami : diharapkan user dapat berkomunikasi dengan komputer menggunakan bahasa sehari-hari
  3. Pengenalan Ucapan : melalui pengenalan ucapan, diharapkan manusi dapat berkomunikasi dengan komputer menggunakan suara
  4. Robotika dan Sistem Sensor 
  5. Computer Vision : menginterprestasikan gambar atau obyek-obyek tampak melalui komputer
  6. Intelligence Computer - Aided Instruction : komputer digunakan sebagai tutor yang dapat melatif dan mengajar
  7. Game Playing
Soft Computing
Soft Computing adalah koleksi dari beberapa metodelogi yang bertujuan untuk mengeksploitasi adanya toleransi terhadap ketidaktepatan, ketidakpastian dan kebenaran parsial untuk dapat diselesaikan dengan mudah, dengam biaya penyelesaian yang murah.

Soft Computing merupakan inovasi baru dalam membangun IB yang memiliki keahlian seperti manusia pada domain tertentu, mampu beradaptasi dan belajar agar dapat bekerja lebih baik jika terjadi perubahan lingkungan,

Unsur-unsur pokok Soft Computing :
  • Sistem Fuzzy Logic (mengakomodasi ketidaktepatan)
  • Jaringan Syaraf (menggunakan pembelajaran)
  • Probabilistic Reasoning (mengakomodasi ketidakpastian)
  • Evolutionary Computing (optimasi)

Saturday, June 4, 2016

Pembahasan Jurnal dengan Tema ITSM

1. Jurnal ke- I
    Judul : Audit Pengelolaan Layanan Tek. Inf. berdasarkan ITIL pada IT Marketing dan Trading PT. Pertamina
    Oleh : Alfiyani Nikmaturrofiqoh

   Pada jaman sekarang ini Teknologi Informasi (IT) sangat dibutuhkan pada sebagian besar organisasi ataupun perusahaan. Maka, layanan TI ini menjadi faktor penting untuk penggunanya khususnya harapan dan kepuasan pengguna layanan ini. Oleh karena ini diperlkan pengelolaan layanan TI yang baik yang disebut Information Technology Service Management (ITSM).

    Salah satu BUMN yang menggunakan layanan ini adalah PT. Pertamina, yang bergerak dalam bidang penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia dan manca negara. Dalam upaya membangun pengelolaan IT yang berorientasi pada layanan dan terintegrasi, maka PT. Pertamina melakukan perubahan dalam pengelolaan ICT (Information and Communication Technology) menjadi sebuah konsep CSS (Corporate Shared Service). Dengan dibentuknya CSS, diharapkan dapat memberikan layanan terbaik bagi pelanggan PT. Pertamina.

    Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa kualitas pengelolaan layanan TI yang dilakukan sudah cukup memadai, namun diperlukan upaya antisipasi untuk mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk melalui tindakan perbaikan agar kesenjangan layanan yang terjadi lebih rendah. Untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya kesenjangan layanan antara kenyataan dengan harapay pengguna layanan IT di PT. Pertamina, maka dibutuhkan audit pengelolaan layanan IT berdasarkan salah satu Best Practice ITSM, yaitu Information Technology Infrastructure Library (ITIL).

Audit adalah pemeriksaan sistematis terhadap catatan-catatan dengan melibatkan analisa, pengujian bukti, dan konfirmasi.

METODE PENELITIAN
--------------------
# Tahap Perencanaan Audit #
1. Penilaian Resiko Audit
Pada proses ini dilakukan dengan menentukan kategori tingkat kesenjangan dari 20 layanan CSS yang terdapat di dalam laporan hasil survey. Semakin tinggi nilai kesenjangan layanan, maka semakin besar tingkat resiko dan intensitas pemeriksaan yang harus dilakukan oleh auditor.
2. Penentuan Ruang Lingkup Audit
Dengan cara memilih layanan yang hanya terdapat di area kerja IT PT.Pertamina. Layanan-layanan tersebut dibagi menjadi beberapa layanan, yaitu layanan berbasis ERP / Non ERP dan layanan teknologi informasi.
3. Penyusunan Rencana Kerja Audit
Rencana kerja ini berupa jadwal kerja yang berisi uraian kegiatan serta estimasi waktu yang diperlukan selama pelaksanaan audit. Mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, hingga tahap pelaporan.
4. Perancangan Program Audit
Program ini dirancang dan dikembangkan secara fleksibel berdasarkan pemetaan layanan - layanan TI PT.Pertamina terhadap ruang lingkup ITIL Service Operation.

# Tahap Pelaksanaan Audit #
1. Pemeriksaan Data / Bukti Pendukung Audit
Dilakukan dengan cara mengkaji ulang prosedur yang terkait dengan pengelolaan layanan serta melakukan interview, observasi, dan wawancara kepada pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan aktivitas.
2. Pengawasan Data / Bukti Pendukung Audit
Melaporkan hasil pemeriksaan kepada auditor senior. Hal ini bertujuan agar dilakukan pemeriksaan ulang terkait kelengkapan, obyektivotas, dan waktu dari data/bukti pendukung audit.

# Tahap Pelaporan Audit #
   Selanjutnya menyusun laporan audit pengelolaan layanan TI sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penugasan audit yang telah dilaksanakan. Ini bertujuan untuk menghilangkan ketidaktepatan pengungkapan temuan selama proses pemeriksaan dan membentuk kesepahaman opine antara auditor dengan auditee.

HASIL DAN PEMBAHASAN
----------------------------
# Tahap Perencanaan Audit #
1. Penilaian Resiko Audit
Dilakukan dengan melakukan survey kepada pihak IT PT. Pertamina Marketing Operation. Dari hasil survei yang telah dilakukan, diperoleh laporab akhir hasil survey layanan CSS mengenai kualitas layanan diberbagai unit kerja dan anak perusahaan PT. Pertamina.
2. Penentuan Ruang Lingkup Audit
Hasil dari proses penentuan ruang lingkup audit berupa 9 layanan yang terdapat di area kerja PT. Pertamina.
3. Penyusunan Rencana Kerja Audit
Hasil dari proses ini adalah tabel rencana kerja audit yang berisi informasi kegiatan audit dan estimasi waktu yang diperlukan selama kegiatan audit berlangsung.
4. Perancangan Program Audit
Berdasarkan hasil pada tahap penentuan ruang lingkup audit yaitu 9 layanan yang menjadi obyek audit pada sebelumnya, dipetakan berdasarkan ruang lingkup ITIL Service Operation yang relevan untuk menghasilkan rancangan program audit pengelolaan layanan teknologi informasi.

# Tahap Pelaksanaan Audit #
1. Pemeriksaan Data / Bukti Pendukung Audit
Hasil dari proses pemeriksaan dara pendukung audit adalah bukti-bukti audit yang telah didapatkan dari pihak auditee berupa dokumen kebijakan/prosedur, catatan review/laporan analisa baik dalam bentuk file/softcopy.
2. Pengawasan Data / Bukti Pendukung Audit
Pengawasan dilakukan oleh auditor senior dengan melakukan pemeriksaan ulang terhadap hasil pemeriksaan data.bukti pendukung audit yang telah dilakukan oleh auditor. Pemeriksaan ulang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memastikan kelengkapan bukti sebelum dilakukan penyusunan temuan.

# Tahap Pelaporan Audit #
Laporan audit berisi temuan dan rekomendasi perbaikan terkait pengelolaan layanan TI berdasarkan ruang lingkup ITIL Service Operation.

    Jadi kesimpulannya, dari hasil audit pengelolaan layanan teknolohi informasi yang telah dilakukan, kebijakan atau prosedur terkait proses pengelolaan layanan TI PT. Pertamina telah tersedia, terdokumentasi dan terkelola dengan baik. Dan pelaksanaan audit belum dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan layanan. Diharapkan untuk pengembangan selanjutkan dapat dilakukan pengkajian ulang terhadap kinerja pengelolaan layanan TI.


2. Jurnal ke- II
   Judul : Perancangan Confoguration Management Database Perusahaan Untuk Meningkatkan Kinerja Layanan Teknologi Informasi PT. Northstar Pasific Capital
    Oleh : Eva Dwi Permatasari

Pendahuluan
Penelitian mengenai CMDB telah dilakukan di berbagai negara-negara termasuk Indonesia diantaranya :

1. Sharifi yang membahas implentasi CMDB berbasis ITIL di suatu organisasi untuk meminimalkan jurang-jurang kualitas. Dengan menggunakan metode IT Service Management dengan model uji/hitung/ukur yang meliputi S.Q.G dan CMDB. 
2. Gupta membahas tentang otomatisasi ITSM incident management process. Dengan menggunakan metode configuration Management Database dengan uji/hitug/ukur meliputi efisiensi hubungan antara configuration items. 
3. Hochstein yang membahas tentang ITIL sebagai “Common Practice Reference Model” untuk IT service Management yang meliputi “formal Assaessment” dan implikasinya dalam cara praktis. Dengan menggunakan metode Information Technology Infrastructure Libary. 
4. Nabiollahi yang membahas tentang strategi layanan di dalam ITIL V3 sebagai framework untuk framework untuk IT Governance. Dengan menggunakan metode ITIL Servic Strategy, dan lain-lain. 

  Dapat di simpulkan bahwa setiap penelitian dari peneliti-peneliti diatas membahas tentang perkembangan teknologi terhadap penerapan CMDB (Configuration Management Database) yang berbasis ITIL. Yang dilakukan peneliti diatas dengan metode yang berbeda-beda untung mencapai tujuan tertentu yang dapat memajukan atau mengembangkat IT.

  Pada jurnal yang saya analisis ini, penelitiannya melakukan perancangan configuration management database pada PT. Northstar PASIFIC Capital dimana tujuannya adalah agar tercipta tata kelola layanan teknologi informasi yang baik khususnya pada Configuration Management database sebagai reseptory yang mencatat segala hal dari organisasi yang berhubungan dengan TI agar dapat memberikan layanan optimal bagi para pengguna.


Landasan Teori
Framework
Framework untuk tata kelola teknologi informasi yang terbanyak digunaakan saat ini adalah ISO 2700, ITIL dan COBIT. Kriteria framework yang tepat untuk PT. Northstar Pasific Capital adalah :
  a. Framework harus merupakan best practice yang telah diakui secara luas.
  b. Framework tersebut harus dapat memetakan manajemen layanan
  c. Harus mengatur Konsep dan proses
  d. Berorientasi pada aktifitas
  e. Memiliki proses dokumentasi konfigurasi mulai dari baseline hingga pengkiniannya.
  f. Memiliki proses menghubungkan entitas satu dengan yang lainnya.

Configuration Management Database (CMDB)
Merupakan Suatu penerapan database yang berisi data-data relevan dan detail-detail dari element-element dari suatu perusahaan yang digunakan dalam mengatur IT Service. Menurut OGC, definisi CMDB adalah sebuah basis data yang digunakan untuk merekam seluruh siklus. Configuration Management System mengelola satu atau lebih CMDB dan masing masing CMDB menyimpan atribut-atribut configuration items serta hubungannya dengan CI lainnya.

Configuration Items (CI)
CI adalah representasi dari entitas yang ada didalam CMDB. Menurut O’Donnel, CI adalah sebuah software model berisi atribut-atribut dari entitas-entitas yang diwakilinya.

Identifikasi Konfigurasi
Berdasarkan OGC, beberapa hal yang penting ketika merencanakan identifikasi dari konfigurasi adalah :
a. Mendefinisikan bagaimana class dan tipe asset (informasi-informasi, seperti layanan TI, hardware, software, gedung, orang, dokumen), configuration item/CI yang perlu dipilih dan diklasifikasikan.
b. Mendefinisikan pendekatan untuk mengidentifikasi. Penamaan dan pelabelan yang unik dari setiap aset atau komponen layanan.
c. Mendefinisikan tugas dan tanggung jawab dari pihak yang mengelola konfigurasi.

   Dengan melakukan identifikasi dari konfigurasi maka diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari pengelolaan CMDB.

Rancangan Penelitian
Best practice dapat di jadikan titik acuan pada perkembang TI. Yang paling efektif best practice harus diterapkan dalam konteks bisnis, dengan framework yang dapat digunakan untuk memberikan keuntungan pda organisasi. Manfaat best praactice :

  - Meningkatkan respon, kualitas dan keandalan solusi dan layanan TI. 
  - Meningkatkan keterjangkauan, prediktabilitas dan pengulangan hasil bisnis yang sukses. 
  - Memperoleh kepercayaan dan meningkatkan keterlibatan pemilik proses bisnis dan pengguna. 
  - Mengurangi resiko, insiden dan kegagalan. 
  - Meningkatkan kemampuan bisnis untuk memantau realisasi manfaat TI 

   Pada tahap discovery dilakukan pengumpulan atribut-atribut dari CI. Discovery memiliki metode yaitu network scan dan windows domain scan. Untuk memilih piranti discovery adalah dengan melakukan query terhadap atribut-atribut CI. Piranti terintigrasi memiliki hubungan yang terkait dengan aplikasi-aplikasi yang terikat dengan CMDB seperti incident management dan change management.

   Tahap selanjutnya yaitu pemetaan keterhubungan, digunakan untuk dapat mengetahui pengaruh dari setiap konfigurasi ke konfigurasi lain maupun ke layanan. Tahap yang selanjutnya, meninjau antara layanan dan CI yang telah dilakukan pada tahap awal yang menjelaskan tentang pemetaan dari bisnis proses yang dimiliki oleh PT. Northstar Pasific Capital.

Hasil Penelitian
Hasil penelitian untuk perancangan menggunakan metode survei dengan cara menyebarkan kuesioner. Variabel yang diukur dalam kuesioner ini adalah :
  1. Persepsi terhadap prosedur-prosedur pada tahapan perancangan CMDB (X)
  2. Persepsi terhadap peningkatan kinerja layanan TI di PT.Nourtstar Pasific Capital (Y).

   Dalam penelian kuesioner yang kedua digunakan metode chi-square dengan melakukan uji hipotesis. Hipotesisnya yaitu “ada hubungan positif dan signifikan antara CMDB desain prosedure dengan kinerja TI peningkatan pelayanan di PT. Northstar Pasific Capital” yang dilakukan dengan metode Product Moment Pearson. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi adalah 00,37. Hal ini ada hubungan positif antara prosedur desain CMDB dengan peningkatan kinerja dalam teknologi informasi layanan PT. Northstar Pasific Capital. Dalam korelasi signifikan dihasikan t sebesar 2,24, Dengan nilai t tabel pada 2,04. Maka dapat dinyatakan bahwa korelasi antara prosedur desain CMDB dan peningkatan kinerja di bidang teknologi informasi layanan di PT. Northstar Pasific Capital adalah signifikan.

Kesimpulan
   Kesimpulan yang di dapatkan pada penelitian ini terdapat persepsi mengenai hubungan yang positif dan signifikan antara prosedur perancangan CMDB dengan peningkatan kinerja layanan TI, sehingga dapat menjadi langkah awal menuju implementasi CMDB di PT. Northstar Pasific Capital.

3. Jurnal ke- III
 Judul : Perancangan Confoguration Management Database Perusahaan Untuk Meningkatkan Kinerja  Layanan Teknologi Informasi PT. Northstar Pasific Capital

Pendahuluan
   Menurut Hansen dan Mowen (2005:477), “Manufaktur JIT (just in time) adalah suatu sistem berdasarkan tarikan permintaan yang membutuhkan barang untuk ditarik melalui sistem oleh permintaan yang ada, bukan didorong ke dalam sistem pada waktu tertentu berdasarkan permintaan ssyang diantisipasi.”
   Dengan sistem JIT, bahan baku dapat tiba tepat waktu ketika dibutuhkan sehingga produksi dapat berjalan lancar, dan permintaan pembelian dapat dipenuhi. Pembelian JIT (JIT purchasing) memberikan syarat para pemasok untuk mengirimkan bahan baku tepat pada waktunya untuk kelancaran proses produksi. Sistem JIT antar departemen di dalam perusahaan dapat tercapai dengan baik apabila terdapat suatu sistem pengendalian yang efektif. Sistem adalah unsur yang saling terkait dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan. Pengendalian terencana dari suatu aktivitas adalah suatu karakteristik dasar dari industri yang sudah modern, sebab pada dasarnya pengendalian yang efektif atas manusia, bahan, mesin dan uang merupakan aspek yang sangat penting demi kelangsungan hidup perusahaan. Sejalan dengan perkembangan suatu perusahaan maka untuk menghadapi faktor-faktor tersebut haruslah dipertimbangkan suatu sistem pengendalian yang dapat menunjang seluruh aktivitas produksi sehingga dapat mencapai semua tujuan perusahaan.

Metode Penelitian
  Objek Penelitian PT. X dirintis sejak tahun 1974 dalam bentuk home industry. Atas kegigihan pemilik, yaitu Bapak T. Tjahyadi, dalm waktu kurang lebih 20 tahun, perusahaan berkembang menjadi sebuah perusahaan industri manufaktur dan pemasaran garmen terkemuka di Indonesia. Ada beberapa unit produksi yang tersebar di beberapa tempat, namun lokasi utamanya berada di Jalan Krawang, Bandung. Perusahaan ini sudah memulai usahanya dengan melakukan ekspor pada tahun 1980, yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Sejak tahun 1988, karena permintaan bertambah, maka perusahaan mengekspor sebagian besar produksinya ke Timur Tengah dan Rusia. Kegiatan ekspor ini berjalan lancar sehingga PT. X menjadi eksportir garmen terkemuka di Indonesia. Pada tahun 1998, prerusahaan merintis kerjasama dengan mengambil lisensi dari salah satu perusahaan garmen terkemuka di Italia. Dan direncanakan produk dengan merk yang cukup terkenal ini akan dibuat dan dipasarkan di Indonesia tahun 1999.

Hasil dan Pembahasan
  PT. X mencakup pembahasan yang berhubungan dengan siklus pembelian, yaitu prosedur permintaan atas pembelian bahan baku, prosedur pembelian bahan baku,
PT. X. Pembahasan ini meliputi prosedur pengendalian yang mencakup beberapa hal berikut ini:
1. Otorisasi yang memadai atas transaksi dan aktivitas
2. Pemisahan fungsi yang memadai
3. Rancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai
4. Pengendalian atas akses serta penggunaan aktiva dan catatan
5. Pemeriksaan independent atas kinerja Pembahasan ini bertujuan untuk menilai apakah aktivitas pengendalian yang diterapkan dalam siklus pembelian pada PT. X saat ini telah memadai, sehingga dapat menunjang tercapainya kegiatan pembelian secara efektif untuk mencapai penyerahan yang tepat waktu.

  Pembahasan Atas Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku Pada PT. X kegiatan permintaan pembelian bahan baku berawal dari bagian PPIC. Pengendalian dalam prosedur permintaan bahan baku ini bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku yang diminta adalah bahan baku yang benar-benar dibutuhkan untuk proses produksi dan tepat dalam jumlah yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Keputusan utama yang harus diambil oleh bagian PPIC adalah untuk mengidentifikasi apa, kapan, dan berapa banyak bahan baku yang harus dibeli.
  Pembahasan Atas Prosedur Penerimaan dan Retur Bahan Baku Pengendalian dalam prosedur penerimaan bahan baku bertujuan untuk menjamin bahan baku yang diterima merupakan bahan baku yang dipesan oleh perusahaan. Bahan baku tersebut dikirim oleh pemasok dengan tepat jenis, jumlah, kualitas, dan waktu pengirimannya


Anggota Kelompok :
 - Alfiyani Nikmaturrofiqoh (10114825)
 - Aida Fitria (10114630 )
 - Eva Dwi Permatasari (13114677)
Kelas 2KA12

Friday, April 1, 2016

ITIL dan COBIT

I T I L
ITIL atau Information Technology Infrastructure Library, merupakan sebuah framework yang dibuat dan dikembangkan oleh Office of Goverment Commerce (OGC) di Inggris, ITIL merupakan kumpulan dari best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang dan industri, dari mulai manufaktur sampai finansial, industri besar dan kecil, swasta dan pemerintah.

Dalam perkembangan ITIL, telah mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya teknologi informasi. Pada awal perkembangannya, dokumentasi ITIL terdiri dari kurang lebih 40 publikasi yang terbagi kedalam modul-modul terpisah, setelah itu untuk simplifikasi serta kemudahan implementasi ITIL dibagi kedalam 7 domain yang masing-masing saling berhubungan dan dapat berdiri sendiri. Dalam perkembangan fase ini atau sekarang disebut juga dengan ITIL versi 2, domain Service Support dan Service Delivery dijadikan sebagai CODE dalam tata kelola layanan terknologi informasi atau IT Service Management. 

Versi terakhir ITIL adalah versi 3. Perubahan mendasar pada versi ini terletak dari sudut pandang pengelolaan IT, dimana pada versi 2 ITIL mengelola layanan sebagai sekumpulan proses dan fungsi sementara dalam ITIL versi 3 layanan sebagai sebuah life cycle.

Sebuah perusahaan layanan teknologi informasi yang tidak mengenal bahkan belum pernah mendengar ITIL, belum tentu tidak mengetahui proses-proses dalam ITIL. ITIL dibuat berdasarkan praktek-praktek pengelolaan teknologi informasi yang dianggap berhasol yang kemudian dirangkum menjadi sebuah framework. Oleh karena itu perusahaan layanan infirmasi belum mengetahui mengenai ITIL, mungkin sudah mengimplementasikan seluruh proses dan fungsi yang terdapat dalam ITIL

C O B I T
Control Objective for Information & Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumnetasi best practice untuk IT Goverment yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen untuk menjembatani gap antar resiko bisnis secara tepat, kebutuhan dan masalah teknis IT. COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan, resiko TI dikelola secara tepat dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab.

COBIT merupakan standar yang dinilai paling lengkap dan menyeluruh sebagai framework karena dikembangkan secara berkelanjutan oleh lembaga swadaya profesional auditor yang tersebar dihampir seluruh negara. Dimana disetiap negara dibangun chapter yang dapat mengelola para profesional tersebut

Manfaat dan Pengguna COBIT

  • Direktur dan Eksekutif - untuk memastikan manajemen mengikuti dan mengimplementasikan strategi searah dan sejalan dengan TI
  • Manajemen - untuk mengambil keputusan investasi TI, keseimbangan resiko dan kontrol investasi
  • Pengguna - untuk memperoleh jaminan keamaan dan control produk dan jasa yang dibutuhkan secara internal maupun eksternal
  • Auditors - untuk memperkuat opini untuk manajemen dalam control internal

PERBEDAAN ITIL DAN COBIT
COBIT merupakansebuah pedoman bagi pengelolaan IT termasuk input, proses, output, serta process control terbagi kedalam 4 obyektif dan 34 area kunci. Masing-masing obyektif tersebut adalah: Planning & Organization (PO), Acquisition & Implementation (AI), Delivery & Support (DS) dan Monitoring.

Sedangkan ITIL merupakan sebuah kerangka pengelolaan layanan IT yang terbagi kedalam proses dan fungsi. Dua area/modul dalam ITIL, yaitu Service Support dan Delivey Support lelu menjadi CORE dalam ITIL versi 2 yang kemudian kita kenal dengan IT Service Management.

Jika dilihat dari posisi kedua pendekatan tersebut, dimana COBIT mengatur masalah obyektif yang harus dicapi oleh sebuah organisasi dalam memberikan layanan IT, sedangkan ITIL merupakan best practice cara-cara pengelolaan IT untuk mencapai obyektif organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa COBIT dan ITIL merupakan dua pendekatan dalam IT Governance dan tata kelola layanan informasi yang saling melengkapi.

Monday, March 14, 2016

Keterkaitan antara SIM dan Manajemen Layanan SI

Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah sistem informasi yang dibutuhkan sebuah organisasi dengan pengolahan seluruh transaksi yang mendukung fungsi manajemen dalam pengambilan keputusan. SIM meliputi metode dan upaya yang terorganisasi dalam menjalankan fungsi pengumpulan data baik dari dalam atau dari luar organisasi dan mempergunakan komputer dalam prosesnya untuk menghasilkan informasi terkini dan akurat.

Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen

Definisi Manajemen menurut para ahli :
  1. Donald W. Kroeber - SIM sebagai sejumlah proses dalam menyajikan informasi kepada para manajer yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional
  2. Gordon B. Davis - SIM sebagai sebuah sistem yang terintegrasi dimana sistem tersebut menyajikan informasi dan berfungsi sebagai bahan pengambilan keputusan dalam organisasi

Perkembangan Sistem Informasi Manajemen
Pada awal perkembangan komputerisasi informasi, komputer belum mempunyai program yang berjalan secara otomatis, melainkan hanya menjalankan komando yang dimasukkan secara manual ke dalam komputer. Setelah tahun 200'an, Sistem Informasi Manajemen mulai berkembang sebagai satu sistem yang terintegrasi pada berbagai induk perusahaan dan cabangnya. Sistem tersebut dibentuk dalam sistem informasi berbasis komputer.

SIM sendiri mempunyai elemen fisik yang dibutuhkan untuk kelancaran sistem yang digunakan, yaitu perangkat keras komputer, perangkat lunak komputer, perangkat lunak sistem umum, perangkat lunak terapan umum, serta program aplikasi. Selanjutnya, dalam SIM terdapat database dan prosedur pelaksanaan sistem manajemen perusahaan dan tentunya petugas yang mengoperasikan semua sistem tersebut.

Manfaat Sistem InFormasi Manajemen
Supaya informasi yang dihasilkan dapat berguna bagi manajemen, maka analis sestem harus mengetahui kebutuhan informasi yang dibutuhkan, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan untuk masing-masing level manajemen dan tipe keputusan yang diambilnya. Maka, tujuan dibentuknya SIM itu supaya organisasi memiliki informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan manajemen, baik menyangkut keputusan rutin maupun keputusan yang strategis.

Manajemen Layanan SI / TI
Manajemen Layanan TI mengacu pada pelaksanaan dan pengelolaan kualitas layanan TI yang memebuhi kebutuhan bisnis. Layanan manajemen TI dilakukan oleh penyedia layanan TI melalui kombinasi yang tepat dari teknologi, manusia, proses, dan informasi


Persaingan bisnis saat ini sudah semakin maju. Masing-masing penyedia layanan bersaing untuk memeberikan layanan yang terbaik agar diminati oleh pelanggan, Kemajuan tersebut didukung dengan adanya teknologi informasi / IT yang turut berkembang di era teknologi. Perkembangan teknologi ini semakin hari semakin kompleks yang memungkinkan segala sesuatu menjadi lebih cepat dan terangkau hingga menyebabkan pelanggan juga memuliki hak atas permintaan yang lebih beragam. Keadaan ini membuat perusahaan memerlukan pendekatan yang lebuh fleksibel untuk integrasi antara layanan TI dengan layanan konvensional perusahaan agar dapat beraing degan perusahaan lainnya yang serupa.

Integrasi yang melibatkan layanan TI dengan layanan konvensional serta semua sumber daya manusia tentunya akan membuat informasi yang dihasilkan juga semakin banyak dan kompleks. Informasi-informasi ini dapat digunakan oleh perusahaan sebagai sumber pengambilan keputusan atas pengembangan bisnis yang dijalankan. Namu, tidak menutup kemungkinan bahwa informasi yang sudah tersimpan rapi menggunakan teknologi informasi seringkali hilang atau jatuh ke tangan yang tidak mmiliki hak semestinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan dan pengontrolan terhadap informasi-informasi yang tersimpan.

Perusahaan yang berfokus pada kepuasan pelanggan dengan menerapkan bantuan teknlogi dalam bisnisnya tentunya akan menghitung ulang biaya yang harus dikeluarkan. Karena penerapan TI juga akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Bagi perusahaan yang kurang atau bahkan tidak bisa mengolah biaya perusahaan akan mengalami kesulitan bahkan kebangkrutan. Untuk itu, dibutuhkan adanya kontrol atas manajemen layanan terutama manajemen TI atau IT Service Management dan juga pengamanan data untuk kontrol atas informasi yang ada pada manajemen informasi.


Link Minggu ke 2
http://alfiyani18.blogspot.co.id/2016/04/itil-dan-cobit.html